Astaghfirullah... sebenarnya saya sedang mencoba untuk melakukan sounding pada Fatih kalimat yang diucapkan Bu Septi pada anaknya saat menlatih disiplin untuk makan sendiri, yaitu "Kalau kamu makan disuapin ibu terus, nanti ibu mati kamu ikut mati"
Saya sebenarnya tidak yakin dengan kalimat itu, juga belum yakin Fatih paham. Tapi pada suatu hari, saya nekad mencoba menyampaikan itu pada Fatih tapi dengan bahasa yang saya rasa Fatih bisa menerima, "Fatih, kalau mas Fatih makan disuapin bunda nanti kalau Bunda mati mas Fatih mam sama siapa? Masa mau nggak maen juga?"
Fatih tampak kurang mengerti dengan maksud apa yang ingin saya sampaikan. Eh, malah dia pahamnya "Kalau Fatih maem disuapin, nanti Bunda mati?"
Waduhh, hmmn.. sepertinya belum saatnya saya mengatakan kalimat itu.
Hingga malam ini, kami sedang melihat video lagu tentang ummi.
Saya pun mencoba menceritakan maksud video itu pada Fatih.
Dikisahkan dalam video tersebut, seorang ibu yang sudah tua renta tidak bisa banyak beraktivitas kecuali berdzikir di tempat tidur. Seorang anak laki-lakinya yang begitu perhatian membawakannya hadiah, mengambilkan makanan, menyuapi, memotong kukunya, menuntun ke kamar mandi, mengobrol, dan benar-benar merawat dengan penuh cinta dan ketulusan. Hingga ummi meninggal, menangislah si anak lelaki itu.
MasyaAllah...
Tidak disangka, Fatih kok hidungnya memerah dan matanya juga merah. Lalu berkaca-kaca. Ya Allah... anakku, hatimu lembut sekali... umurmu baru tiga tahun, tapi kau sudah menunjukkan suatu kecerdasan emosi.
Lalu Fatih minta gendong hingga mengantuk dan minta ditidurkan di kasur.
Ya Allah... semoga Allah selalu memberimu seorang ibu yang penuh cinta, dan juga orang-orang yang penuh cinta di sekitarmu...
Semoga kelak kita berkumpul di surga ya nak...