Rabu, 27 September 2017

Mendidik Anak Laki-laki dengan Cara Laki-laki

Bismillaah..........

[ Didiklah Anak Laki-laki dengan Cara Laki-laki ]

Saya memang tidak punya anak laki-laki, tetapi suatu saat nanti saya akan memilih tiga anak laki-laki untuk tiga anak perempuan saya.

Maka, saya merasa relevan menuliskan tentang ini.

Beberapa hari lalu, saya bertelepon dengan kolega yang belum bisa memenuhi kesepakatan dengan saya terkait tenggat pekerjaan. Nilai pekerjaannya cukup membuat pening kepala.

Dia mengatakan bahwa sedang pusing dengan permintaan anak laki-lakinya. Anak laki-lakinya minta sebuah mobil untuk pergi-pulang kuliah di sebuah universitas swasta, istrinya pun yang sholihah tersebut (sholihah = rajin ngaji, rajin datang pengajian, jilbab syar’i dll) merengek-rengek hal yang sama: sebuah mobil untuk anak laki-lakinya.

Apakah salah memberikan mobil untuk berangkat pergi-pulang kuliah? Ini subyektif.

Tetapi menurut saya, anak kuliahan tidak perlu pulang-pergi naik mobil. Bayar wc saja masih minta orang-tua, apalagi beli bensin, dan service mobil di bengkel?

Jadi ingat bapak almarhum yang menolak mentah-mentah mengajari saya setir mobil saat saya SMA (padahal ada 2 mobil di garasi rumah). “Kamu masih punya keringet, sana naik bus!” “Nanti saja kalau kamu sudah bisa beli mobil sendiri, baru belajar setir mobil”

Saya geram. Teringat anak perempuan saya yang naik kereta Bekasi-Depok tiga ribu rupiah sekali jalan, dan berpanas-panas naik motor atau angkot dari kost ke kampusnya. Dia bahkan menolak sewa mobil online atau saya antar jika saya menawarkan. “Sayang uangnya, kasihan umi harus antar aku”

Ini, anak laki-laki bikin pening kepala bapaknya karena minta mobil! Dan bapaknya menggunakannya sebagai alasan mangkir pekerjaan, mangkir dari amanatnya dengan saya, sebagai koleganya.

Dalam Al-Qur’an sih jelas:

Ar-rijaalu qowamuna ala nisaa’, suami itu pemimpin para istri.

Rupanya menjadi laki-laki yang baik, laki-laki yang mengerti makna kepemimpinan memang tidak mudah, mungkin masih lebih mudah meraih gelar Ph.D dibidang fisika nuklir, sejarah, pebisnis atau pemimpin politik.

Ternyata menjadi anak laki-laki yang patut, ayah yang terhormat, tetangga yang proporsional atau teman bisnis yang layak bukanlah hal yang mudah. Padahal, justru itu yang paling mendasar.

Mendididik anak laki-laki dengan cara laki-laki.

1. Biasakan anak-anak terutama anak laki-laki menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah

Menjadi bagian dari solusi adalah tugas akhir sebagai manusia. Sumbangsih dalam kehidupan adalah kita menjadi manusia yang berguna minimal bagi diri sendiri (tidak menjadi beban orang-lain) dan paripurna ketika ia menjadi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

“Khairukum, anfauhum lin naasi” sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Jika tidak bisa menjadi solusi, paling tidak menjauhlah dari menjadi masalah bagi orang lain.

2. Biasakan mengerti kesulitan orang-tua dan memberikan pendapat

Apakah Anda termasuk orang-tua yang superhero? Yang menjadi solusi bagi semua problematika anak-anak Anda? Percayalah, Anda tidak sedang memberi contoh bagaimana menjadi super-hero, Anda sedang menjerumuskan anak Anda, pada kehancuran sehancur-hancurnya.

Anak anda akan tumbuh menjadi pribadi lemah yang senantiasa ingin masalahnya dibantu diselesaikan orang lain, Anak Anda akan tumbuh menjadi pribadi yang suka melempar kesalahannya pada orang lain.

Apakah Anda adalah orang-tua yang tidak pernah menceritakan kesulitan Anda pada anak Anda? Karena menganggap hidup mereka harus lebih mudah daripada hidup Anda? Percayalah Anda sedang menciptakan pribadi pemalas yang tipis empati dan tidak biasa bekerja keras.

Saya pernah menunjukkan saldo atm saya pada anak-anak, ketika pada suatu saat saya benar- benar tidak ada: Rp 36 rupiah. Anak-anak langsung berkata, “Maaf ya Mi, lagi broke ya?”

Saya menjawab “iya” sambil tersenyum-senyum dan mengangguk-angguk. Lalu dalam beberapa bulan itu, mereka mengeluarkan tabungannya dan membeli sendiri keperluannya.

3. Biasakan menghadapi masalah

Cuma masalah yang akan membuat kita menjadi pemecah masalah. Bagaimana kita bisa menjadi pemecah masalah. Jika mengetahui bahwa ada masalah atau tidak saja kita tidak tahu?

Anak laki-laki yang meminta mobil itu tidak bisa mengenali ekspresi ayahnya (dari wajahnya, gesturenya dll) bahwa orang-tuanya sedang tidak punya uang. Akan tumbuh menjadi pribadi seperti apa dia nantinya?

4. Biasakan melindungi yang lemah

Kepimimpinan adalah masalah perlindungan.

Jika tidak bangga melindungi yang lemah, bagaimana bisa menjadi pemimpin yang baik?

Keqawaman bukan hanya masalah finansial (yang kuantitatif: banyak dan berlimpah) tetapi masalah proporsi untuk perlindungan.

Mendidik anak laki-laki adalah mendidik bashirah dan nalurinya untuk melindungi yang lemah. Ayah yang baik, mengerti bagaimana cara menumbuhkannya, yakni terbiasa mendahulukan orang-orang yang lemah. Maka ia akan tumbuh kuat.

5. Biasakan mendahulukan orang lain daripada diri sendiri

Qawam bukan masalah pendapatan berlimpah, tetapi seberapa proporsi dia berikan untuk orang lain daripada dirinya sendiri.

Betapa banyak ayah-ayah di dunia ini, mendahulukan anak-anak dan istrinya daripada dirinya, meski pendapatannya sedikit.

Ayah yang ingin membelikan mobil bagi anak laki-lakinya bukannya mendahulukan orang lain? Bukan, ia sedang memberikan racun pada anaknya, karena barang mewah harusnya diperoleh dengan kerja keras dan kemandirian.

6. Biasakan merasa gagah dengan kesulitan yang dihadapi

Kegagahan laki-laki adalah ketika ia bisa tegar menghadapi kesulitan. Harga dirinya ditentukan sejauh mana ia bisa menghadapi dan mengatasi kesulitannya.

Jika tidak dihadapkan pada kesulitan, manusia tidak akan tumbuh berkembang dengan baik.

Maka manusia-manusia paripurna selalu mengalami kesulitan pada masa kecilnya, Nabi Isa lahir dari Ibu tanpa ayah, Muhammad lahir yatim dan piatu pada usia 6 tahun. Mereka yang melewati fase kehidupan yang sulit, akan menjadi pribadi yang gagah.

7. Biasakan mengenali emosi dirinya dan bagaimana mengelolanya dengan baik

Mengenali emosi umumnya diserahkan pada perempuan, tetapi saya melihat manusia pari-purna seperti Nabi Isa, Nabi Muhammad dan hampir semua para Nabi.

Mengerti hal ini luar-dalam. Mengenali emosi diri sendiri akan memantul menjadi ketrampilan mengenali emosi sesama. Betapa romantisnya Muhammad ketika mengajarkan dzikir pada Fatimah putrinya saat menghadapi kemiskinan Ali suaminya. Laki-laki yang sibuk berperang daripada berbisnis untuk memberi nafkah istrinya.

Bagaimana anak laki-laki yang belum bisa cari nafkah sendiri meminta mobil pada ayahnya?

Mungkin kelak, ia tidak sibuk apa-apa kecuali minta dilayani terus-menerus. Tidak sibuk mencari nafkah, apalagi sibuk berperang.

Ya, Allah jauhkanlah dari hal yang demikian.

Wallahu a'lam

___________________________

[ @ Intan Savitri, Via. Ustadz Cahyadi Takariawan ]

Minggu, 24 September 2017

11 RAHASIA KEBERHASILAN PARA SALAFUNA SHOLEH DALAM MENDIDIK PUTERA PUTERI MEREKA.

Beberapa waktu lalu saya mendapat pesan WA dari bulek saya,

SEBELAS RAHASIA KEBERHASILAN PARA SALAFUNA SHOLEH DALAM MENDIDIK PUTERA PUTERI MEREKA.

ﻋﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻣﻦ ﺳﺎﺩﺗﻨﺎ ﺍﻝ ﺑﺎﻋﻠﻮﻱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ
١١ ﻋﺎﺩﺓ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻓﻲ ﺗﺮﺑﻴﺔ ﺍﻭﻻﺩﻫﻢ

Orang-orang Sholeh dari Keluarga Ba'alawi (semoga Allah meridhoi mereka).
memiliki 11 konsep dalam mendidik Anak-anak mereka:

١. ﺍﻻﻡ ﻓﻲ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﺮﺿﺎﻋﺔ ﺗﻘﺮﺍﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻮﻟﻮﺩ ﺍﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ﻭﺍﻟﻤﻌﻮﺫﺗﻴﻦ ﻭﺗﻜﺮﺭﻫﻤﺎ
Memerintahkan kepada isteri-isteri mereka ketika menyusui lidahnya tidak putus  untuk terus  membaca Ayat Kursi dan Al ikhlas, Al falaq ,An nas.

٢. ﺍﻭﻝ ﻣﺎﻳﻠﻘﻨﻮﻥ ﺍﻟﻄﻔﻞ ﻋﻨﺪ ﺑﺪﺍﻳﺔ ﺍﻟﻨﻄﻖ (ﺭﺿﻴﺖ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺭﺑﺎ ﻭﺑﺎﻻﺳﻼﻡ ﺩﻳﻨﺎ ﻭﺑﻤﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻧﺒﻴﺎ ﻭﺭﺳﻮﻻ)

Pertama kali yg diajarkan ke anak mereka ketika baru bisa bicara. kalimat yg berbunyi:
"Rodhitu billahi Robba Wa bil Islami diina Wa bimuhammadin sholla Allahu ‘alayhi wa sallam Nabiyyan wa Rosuula"
artinya (aku ridho Allah sbg Tuhanku dan Islam agamaku dan Nabi Muhammad Nabi dan Rosulku )

٣. ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﺑﺎﻷﻭﻻﺩ ﺍﻟﺼﻐﺎﺭ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻬﻢ ﻋﺎﺩﺓ

Membiasakan kepada anak-anak mereka sejak kecil untuk bangun malam atau bangun sebem tiba waktu Shubuh..

٤. ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻤﻮﺍﺳﻢ ﺍﻟﺪﻳﻨﺔ ﻭﻣﻮﺍﺳﻢ ﺍﻟﻨﻔﺤﺎﺕ ، ﻛﺸﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻳﺠﻤﻌﻮﻥ ﺍﻭﻻﺩﻫﻢ ﻭﻳﺴﻠﻮﻫﻢ ﻣﺎﺫﺍ ﺳﻴﻌﻤﻠﻮﻥ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻮﺍﺳﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻭﺍﻟﺒﺮ ﻛﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻭﺍﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ

Sebelum memasuki Bulan-bulan berkah seperti Ramadhon, mereka mengumpulkan anak-anak mereka dan bertanya kpd mereka, apa yg akan kalian kerjakan dibulan yg berkah ini? dari amalan membaca Al Qur'an, dzikir,dan sedekah dll.

٥. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ ﺍﻭﻻﺩﻫﻢ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﻛﻤﺎ ﻳﻌﻠﻤﻮﻧﻬﻢ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ

Mereka mengajari anak-anak mereka niat-niat yg baik sebagaimana mengajari mereka Surat Al Fatihah.

٦. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻘﺪﻭﻥ ﻣﺠﻠﺲ ﻋﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻳﺠﺘﻤﻊ ﻓﻴﻪ ﻛﻞ ﻣﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻳﻮﻣﻲ ﺍﻭ ﺍﺳﺒﻮﻋﻲ ﻳﻘﺮﺅﻥ ﻣﺎﺗﻴﺴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ( ﺣﺰﺏ ) ﻭﻛﺘﺐ
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ
ﻭﻳﺨﺘﻤﻮﻧﺔ ﺑﺎﻻﺩﻋﻴﺔ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Mereka mengadakan majelis ilmu di rumah, dan berkumpul semua yang ada dirumah, majlis harian atau mingguan, mereka membaca sedikit dr alqur'an Al kariem(tadarus) dan kitab hadits serta fiqih
dan mereka menutup majelis dengan doa dan solawat kepada Nabi Muhammad SAW.

٧. ﻓﻲ ﺣﺎﻝ ﺑﻠﻮﻍ ﺍﺣﺪ ﺍﺑﻨﺎﺋﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻠﻤﻮﻧﻪ ﺍﻧﻪ ﺑﻠﻎ ﻭﺍﻧﻪ ﺻﺎﺭ ﻣﻜﻠﻒ ﻭﺍﻥ ﺍﻻﻥ ﺻﺎﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻠﻜﺎﻥ ﻳﺴﺠﻼﻥ ﺣﺴﻨﺎﺗﻪ ﻭﺳﻴﺌﺎﺗﻪ ﻭﻳﻜﺘﺒﺎﻥ ﺍﻗﻮﺍﻟﻪ ﻭﺍﻓﻌﺎﻟﻪ ،ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺫﺍﻟﻚ ﻓﻲ ﺟﻤﻊ ﻳﺤﻀﺮﻩ ﺍﻟﻤﺸﺎﻳﺦ ﻭﺍﻟﻜﺒﺎﺭ

Ketika masuk baligh anak mereka, mereka memberi tahu anaknya klo sudah Mukallaf dan sekarang dua Malaikat akan mencatat kebaikan dan kejelekan dan menulis ucapan dan perbuatannya, dan hal itu diadakan perayaan yg dihadiri para ulama' dan orang orang sholeh.

٨. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻻﻳﺆﺧﺮﻭﻥ ﺯﻭﺍﺝ ﺍﺑﻨﺎﺋﻬﻢ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ ﺧﻮﻓﺎ ﺍﻥ ﻳﻘﻌﻮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺤﻈﻮﺭ

Mereka tidak menunda pernikahan anak-anak mereka setelah baligh kawatir terjerumus kpd kemaksiatan.

٩. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ ﺍﻭﻻﺩﻫﻢ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺘﻀﺮﻉ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺍﻻﺣﻮﺍﻝ،
ﻓﺎﺫﺍ ﺍﺭﺍﺩ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺷﻲ ﻣﻦ ﻭﺍﻟﺪﻩ ﺍﻭ ﻭﺍﻟﺪﺗﻪ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻟﻪ ﻗﻢ ﻭﺗﻮﺿﺎﺀ ﻭﺻﻞ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﻭﺍﺳﺌﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻘﻀﻲ ﺣﺎﺟﺘﻚ ﻭﺑﻌﺪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻳﺎﻋﻄﻮﻩ ﻣﺎﻃﻠﺐ ،ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻗﺪ ﺍﺳﺘﺠﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺩﻋﺎﻙ

Mereka mengajari anak-anak dgn berdoa memohon kpd Allah dlm setiap keadaan, maka apabila anaknya ingin sesuatu dr orang tuanya, mereka berkata kpd anaknya wudhu'lah dan sholat 2 rokaat dan mintaklah kepada Allah hajat-hajatmu. dan setelah sholat orang tua memberikan yg anak minta seraya berkata Sungguh Allah yang mengabulkan doamu.

١٠. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﺠﻌﻠﻮﻥ ﻟﻜﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻋﻤﻞ ﻣﺨﺼﺺ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ،ﻓﻬﺬﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﻠﺐ ﺍﻻﻏﺮﺍﺽ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻭﻫﺬﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﻨﺲ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻭﻫﺬﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﺧﺪﻣﺔ ﺍﻟﻀﻴﻮﻑ ﻭﻫﺬﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻭﻫﻜﺬﺍ

Mereka membagi tugas kepada setiap anak, ada yg tugas belanja ke pasar, dan ada yg menyapu rumah dan ada yg tugas melayani tamu dan ngambil air dsb.

١١. ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻬﺘﻤﻮﺍ ﺑﺘﻌﻠﻴﻢ ﺍﻟﺒﻨﺎﺕ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻛﻮﺭ ﻻﻧﻬﻦ ﺣﺒﻴﺴﺎﺕ ﺍﻟﺒﻴﻮﺕ .

Mereka lebih banyak memperhatikan pembelajaran putri-putri mereka lebih serius dari anak laki-laki karena anak perempuan tidak keluar rumah.

Wallahu a"lam. (Di Share dari Habib Muhdor Segaf).

Jumat, 15 September 2017

KAPAN WAKTU MENGAJARKAN SHOLAT

Ust. Adriano Rusfi :

KENAPA SHALAT BARU DIAJARKAN SAAT ANAK BERUSIA TUJUH TAHUN ?

“Ajarkanlah anakmu shalat saat ia berusia tujuh tahun...”. Begitulah penggalan hadits Rasulullah SAW yang sangat populer. Namun, karena ghirah Islamiyah yang begitu tinggi, saat ini sangat banyak orangtua Muslim yang mengajari anaknya shalat jauh sebelum itu, seakan Rasulullah SAW di hadits lain pernah bersabda : “Tapi lebih cepat lebih baik”.

Mungkin nggak akan dipermasalahkan jika ikhtiar melanggar sunnah ini tak berdampak negatif di masa depan. Tapi lihatlah, betapa banyaknya anak yang belakangan tak menunjukkan komitmennya terhadap penegakkan shalat, padahal ia telah belajar shalat sejak usia 2 tahun. Ya, mungkin mereka kelak masih melaksanakan shalat, sekadar menggugurkan rukun dan syarat, tapi tak MENEGAKKAN shalat. Ya, anak-anak yang kelak shalat seperti shalatnya orang munafik : enggan !!!

Mungkin banyak orangtua lupa, bahwa shalat adalah ibadah yang kompleks. _Di dalamnya ada ilmu, niat, khusyuk, ucapan, gerakan, tu’maninah dan tertib. Ia bukan hanya ucapan dan tindakan (skils), tapi merupakan a set of competence, yang meliputi attitude (niat, khusyuk, tu’maninah), knowledge (ilmu, tertib) dan skill (ucapan, perbuatan)_.

Mungkin para orangtua berpikiran sederhana : “Minimal latihan gerak dan ucapan dulu”. *Padahal, mulailah segalanya dari niat*.

Tentang khusyuk, bisakah anak di bawah 7 tahun khusyuk ? Bukankah anak seusia itu fokusnya masih menyebar, konsentrasinya masih terbatas dan sulit untuk diam (tu’maninah) ? Dan lagi-lagi orangtua beralasan,”Khusyuk belakangan kalau ucapan dan geraknya sudah benar”. Sehingga lahirlah generasi kita-kita yang begitu sulitnya untuk khusyuk. Sungguh, khusyuk itu adalah kemampuan yang baru akan Allah ilhamkan saat hambaNya telah berusia tujuh tahun.

Lalu, yang terjadi adalah anak-anak usia dini yang dimarahi orangtuanya karena shalat tak tenang dan tak tertib. Di masjidpun mereka sering dibentak marbot karena ngobrol dan lari-larian di masjid, bahkan tak jarang dipukul. Duh, bersama shalat yang terlalu dini, ada pengalaman traumatik tentang shalat dan masjid yang terlalu dini juga. Wajar jika seorang tua berusia 61 tahun bilang ke saya : “Saya baru ke masjid lagi setelah 56 tahun, setelah dulu saya dipukul oleh pengurus”.

*Niat dan khusyuk adalah buah dari aqidah*. Untuk itu tanamkanlah nilai-nilai aqidah pada anak sejak dini, lalu ajarkanlah syari'ah sejak usia 7 tahun.

Niat dan khusyuk itu akan tumbah bersama tumbuhnya cinta, fokus dan konsentrasi. Jadi pupuklah pada anak kecintaan pada Allah, Rasul dan Islam lewat cerita, bermain dsb. Selanjutnya adalah pembiasaan.

Dan, hampir semua teori psikologi juga mengingatkan bahwa pengajaran kecakapan kompleks baru dilakukan saat anak berusia 7 tahun.

Pada sistem tarbiyatul aulad dalam Islam, fase tadrib (melatih) adalah 7 sd 12 tahun. Dimulai dari shalat.

Sebelum usia 7 tahun, yang penting anak-anak kita dapat menyaksikan keteladanan orangtuanya dalam shalat : tepat waktunya, tertibnya, khusyuknya, dan wajah yang tampak padanya bekas sujud kepada Allah.

Setiap taklif diniyah (shalat, shaum, qira'ah AlQur'an, menutup aurat dsb.) baru akan menjadi kewajiban setelah aqil-baligh, sedangkan latihannya telah dimulai sejak 7 tahun.

Begitu pula dengan tahfiizhul Qur'an. Alangkah baiknya kita fokus untuk membuat anak-anak mencintai kitabullah. Kalau cintanya sudah menggebu, siapa tahu anak-anak kita bahkan merengek minta dibimbing menghafal AlQur'an. Itulah yang dinamakan learning readiness.

Dalam kitab Tarbiyatul Aulad karangan DR Abdullah Nasih 'Ulwan dinyatakan bahwa mengajarkan puasa dilakukan sesudah atau bersamaan dengan mengajarkan shalat. Tekankan pada nilai-nilai puasa yang meliputi imsak dan amal

Rasulullah SAW dalam hidupnya telah menjalani delapan kali Ramadhan. Dan HANYA SEKALI yang puasanya full. Karena begitu padatnya amal, safar dan jihad Rasulullah SAW di bulan Ramadhan yang membenarkan beliau untuk mengambil rukhshah.

Jadi, puasa poll perlu diapresiasi. Namun amalan poll lebih perlu lagi diapresiasi.

Mungkin banyak juga orangtua yang lupa bahwa hukum asal dari shalat, sebagaimana seluruh ibadah mahdhah lainnya, adalah haram. Ia berubah menjadi wajib karena telah diperintahkan Allah. Oleh karenanya, shalat harus dilakukan dengan ilmu, kesadaran dan keta’atan akan hukum Allah. Ia adalah amal yang harus dilakukan dengan ilmu, bukan semata-mata lewat tiru. Apakah anak usia sebelum tujuh tahun telah siap untuk itu semua ? Sungguh benarlah Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW tak pernah bersabda "Ajari anakmu shalat sedini mungkin". Jadi, bagaimana kalau kita ta'ati Rasulullah SAW saja ?

Sumber : Grup FB Millenial Learning Centre via Jabar_HE BPA 1

Menjadi Guru Bagi Buah Hati

*MENJADI GURU BAGI BUAH HATI*
_By : Ustadz Budi Azhari, Lc_

Jum’at dini hari. Seperti biasa, sebelum masyarakat datang berkunjung, Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan semua anak-anaknya. Dari keempat istrinya, Umar memiliki tujuh belas anak.

Setelah semua berkumpul, maka saatnya Umar memulai tadarrus al-Qur’an. Dimulai dari anak yang paling tua, kemudian dilanjutkan adik-adiknya. Begitulah. Semua membaca al-Qur’an bergantian. Satu persatu. Sedangkan Umar menyimak bacaan al-Qur’an anak-anaknya dengan sungguh-sungguh dan penuh ta’dhim.

*Inilah ayah yang sekaligus guru bagi anak-anaknya. Guru al-Qur’an. Meskipun Umar telah memilihkan guru-guru hebat bagi buah hatinya, namun dirinya sendiri merasa perlu terjun langsung dalam mewarnai keilmuan mereka.* Sekalipun agenda reformasi dan kiprahnya dalam pemerintahan sangat banyak, tapi selalu ada waktu yang sangat berkualitas dengan keluarganya. *Kebersamaan dalam naungan al-Qur’an.*

Menciptakan iklim al-Qur’an dalam lingkungan keluarga, itu nilai penting pada tulisan seri ini. Ketika ternyata sekedar ‘menitipkan’ anak di lembaga-lembaga pendidikan tertentu tidaklah cukup untuk membangkitkan daya dan memupuk kecenderungan anak kepada al-Qur’annya, ketika iklim di rumah tidak Qur’ani. 

*Nuansa al-Qur’an harus tercipta dalam lingkungan keluarga terlebih dahulu,* dan Umar telah melakukan itu. Sehingga menjadi sangat perlu kiranya setiap keluarga muslim mulai merutinkan halaqah al-Qur’an. Disitu berkumpul antara orang tua dan anak-anak. Bergantian membaca al-Qur’an. Mengkaji pelajaran dari setiap ayat-ayatnya. Dan yang menjadi guru adalah ayah.

Menarik pasti. Sangat istimewa. ````Lebih berkesan dari halaqah al-Qur’an yang diikuti oleh para anak di sekolah mereka. Karena disitu ayahnya adalah gurunya. Ini adalah satu program besar peradaban yang perlu diinstal di setiap rumah. Harus segera dimulai walaupun di awal terasa canggung dan bingung.```

Abdullah bin Umar berpesan, _“Kamu harus bersama al-Qur’an, pelajari al-Qur’an itu dan ajari anak-anakmu. Karena sesungguhnya kamu kelak akan ditanya tentang al-Qur’anmu dan dengannya kamu akan mendapat pahala, dan cukuplah al-Qur’an sebagai pemberi nasehat bagi orang yang berakal.”_

*Menjadi guru bagi para buah hati. Beginilah ayah hebat mencetak generasi unggulan*
 

#fatherhoodforum
#home education
#parenting nabawiyah

Kurikulum Allah

🎉🎉 *Oleh-oleh Kopdar bersama ustad Adriano Rusfi* 🎉🎉

Kemarin ustadz Aad di kopdar mini fasil Jadetabek Bandung Semarang, kami dapat insight penting....

Konsep HE melalui Penguatan pendidikan karakter. Saat ini permasalahan pendidikan kita adalah racun paradigma persekolahan yang masih belum hilang. Maka menjadi penting untuk menggantinya dengan *_KURIKULUM ALLAH_*

1⃣ Intinya, orangtua hendaknya mampu memaknai hikmah kehidupan untuk anak anaknya dengan membekali kecakapan kecakapan hidup.

2⃣ Membangun *_Peradaban Belajar_*.
Amerika hebat dan besar bukan karna kampus kampus seperti
Harvard, tapi kuncinya ada di peradaban belajar masyarakat. Amerika telah memiliki peradaban belajar (Berfikir & Bertindak) yang baik. Di indonesia belum terlihat peradaban belajarnya, satu-satunya contoh terbaik peradaban belajar di Indonesia adalah *GONTOR*

3⃣ Tentang CBE *( _Community Base Education_ )*.
Membangun CBE dgn Community Learning Center berbasis tetangga, transformasi dari masjid ke masjid dan menjadikannya sebagai pusat aktivitas/peradaban. Mulailah bergandengan tangan mengajak tetangga terdekat berCBE. Mulai dari lokal/wilayah yg kecil, namun mengakar.

*Tugas terberat kita* adalah membuang kerangka berfikir pendidikan formal yang apa-apa harus stuktural, formal, sesuai pakem kurikulum yang jelas. Padahal anak-anak kita tidak butuh itu. Anak anak justru perlu dibenturkan dengan realita, tantangan, kesulitan, ujian. Inilah yang disebut Kurikulum Allah.

#Cipinang30042017
============================
By: Bunda Noni dkk

Prinsip Mendidik Fitrah Bakat

*Prinsip Mendidik Fitrah Bakat*

_Katakanlah (Muhammad), "Setiap orang berbuat sesuai dengan bakat pembawaannya masing-masing." Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS. Al-Isra': Ayat 84)_

Setiap anak lahir dengan membawa fitrah. Secara garis besar, yang pertama, fitrah ada yang terkait dengan Ketuhanan dan Keagamaan yaitu potensi serta dorongan bawaan manusia untuk menerima Ketuhanan atau Keagamaan. Yang kedua, fitrah ada yang terkait dengan kemanusiaan itu sendiri yaitu potensi bawaan manusia (innate goodness atau innate character) untuk menjalani peran peran terbaik di muka bumi. Diantara fitrah itu adalah fitrah bakat.

1. Jangan Sia Siakan Bakat. Ibnul Qayyiem dalam bukunya Tuhfatul Maudud mewanti wanti agar kita janganlah sampai melalaikannya sehingga anak kehilangan perannya. Banyak bersyukurlah (optimis dan tenang) atas fitrah bakat tiap anak dan yakinlah bahwa tiap anak kita dengan fitrah bakatnya pasti punya peran spesifik istimewa di muka bumi yang ditunggu tunggu dunia di masa depan.

2. Bakat untuk mencapai Maksud Penciptaan. Jika peran spesifik istimewa atas fitrah bakat ini dicapai atau "accomplished" maka maksud penciptaan untuk menjadi Hamba Allah dan Khalifah Allah akan juga tercapai. Maka mendidik fitrah bakat adalah menemani anak anak kita untuk menemukan jatidirinya sesuai tahapan usianya dan menghantarkan mereka untuk menjalani peran spesifik peradaban di dunia yang sesuai dengan fitrah bakat atau sifat uniknya itu dalam rangka memenuhi maksud penciptaan itu.

3. Temukan Peran Unikmu Sendiri. Mendidik tiap aspek fitrah harus berujung kepada peran spesifik terbaik dan adab mulia sesuai atas aspek fitrah bakatnya itu. Mendidik fitrah bakat harus berujung kepada agar anak anak kita memiliki peran peradaban spesifik di dalam bidang kehidupan di masyarakat dengan kemauan memberi sebanyak banyak manfaat atau memberi adab mulia bagi kehidupan. Peran spesifik ini bisa jadi belum ada contohnya pada saat ini, tugas kitalah mendorong anak anak kita menemukan peran uniknya sendiri atas fitrah bakatnya itu. Jangan pernah menyuruh anak kita menjadi versi kedua dari orang lain. Sebagai catatan bahwa fitrah bakat ini ada yang terkait dengan keistimewaan sifat (suka memimpin, suka mengatur, suka meneliti, suka merancang dll) dan ada yang terkait dengan keistimewaan fisik (olahraga, memasak, dll).

4. Dipandu Kitabullah. Mendidik fitrah bakat harus dipandu dengan nilai nilai Kitabullah agar menjadi peran yang menebar rahmat (rahmatan lil alamin) dan kabar gembira serta peringatan (bashiro wa nadziro)

5. Bakat itu Karakter Unik Bawaan. Diantara makna kata "Fithrah" adalah Al-Ibtida atau diciptakan tanpa contoh alias unik. Jadi makna fitrah bakat adalah sifat unik atau fitur unik manusia, tentu yang positif. Fitrah bakat merupakan karakter unik yang merupakan bawaan lahir (nature character) yang melekat pada personaliti manusia sehingga membuatnya unik dalam berfikir, merasa dan bertindak. Karena ini nature character maka sudah keren tanpa membutuhkan banyak kursus atau training. Hanya memerlukan aktifasi dan penguatan. Karenanya Bakat disebut karakter kinerja.(performance character).

6. Bakat itu Passion, Hebat belum tentu Bakat. Jangan tergesa menganggap sesuatu yang nampak hebat dari anak kita itu bakat, karena bakat memerlukan passion atau enjoy ketika melakukannya. Fitrah bakat atau Sifat unik ini Allah instal sejak lahir agar kelak manusia memiliki peran peradaban spesifik dalam satu atau beberapa bidang dalam kehidupan masyarakat atau peradabannya pada sebuah zaman dimana mereka ditakdirkan hidup. Fitrah bakat adalah panggilan hidup yang terlihat dari bagaimana manusia menjalaninya dengan ghairah, passion dan bahagia.

7. Pada tahap usia 0-6 tahun, fitrah bakat akan nampak sebagai sifat unik, maka amati dan buatlah jurnal aktifitas yang dapat merekam sifat uniknya, yaitu aktifitas yang relevan dengan sifat uniknya dengan ciri antusias, bahagia, keren dalam melakukannya.

8. Jangan Benturkan dengan Adab/Akhlak. Beberapa sifat unik di bawah 7 tahun bisa jadi terlihat "tidak beradab", misalnya keras kepala, cerewet, cengeng, penakut dsbnya. Maka jangan tergesa dibenturkan dengan adab atau akhlak, banyak bersyukurlah bahwa Allah tidak mungkin menciptakan anak yang jahat dan tidak punya masa depan. Lihatlah bahwa anak keras kepala itu sesungguhnya berbakat sebagai pemimpin, tidak ada pemimpin yang mudah diatur bukan? Anak cerewet itu sesungguhnya adalah komunikator atau orator atau presenter dsbnya yang handal, bukankah semua peran itu bukan peran pendiam?

9. Pada tahap usia 7-10 tahun, berikan aktifitas yang relevan dengan sifat unik. Ajak untuk "tour de talents" untuk membuka wawasan aktifitas atau peran yang relevan dengan sifat uniknya itu. Jika sifat uniknya, misalnya suka memimpin, maka berikan aktifitas dimana ananda selalu mendapat kesempatan untuk memimpin. Ingat setiap anak bisa memiliki sifat unik lebih dari satu, sehingga aktifitas yang relevan juga bisa banyak. Diharapkan pada usia 10 tahun sudah bertemu dengan aktifitas yang jika akan memulainya sangat diitunggu ditunggu, ketika menjalankannya sangat enjoy, easy, excellent seolah dunia berhenti berputar, dan ketika mengakhirinya ananda tidak mengatakan, "akhirnya kelar juga". Pilihlah 2 atau 3 aktifitas yang demikian lalu fokus saja mengembangkannya. Jangan lupa buatlah portfolio anak untuk merekam pencapaiannya.

10. Pada tahap usia 11-14 tahun, pastikan bakat anak sudah jelas atau sudah ditemukan pada usia 10 tahun, jika belum maka prosesnya diulang seperti pada tahap di no 7, 8 dan 10 di atas. Lakukan talents mapping jika masih ragu. Jika sudah yakin maka kembangkan bakat itu dengan konsisten dan disiplin sehingga menjadi peran peradaban terbaik. Berikan Maestro Bakat untuk pemagangan bakatnya dan berikan Murobby/Chaperon untuk menggembleng adab / akhlaknya. Ingat bahwa peran ananda kelak bisa jadi belum ada pada zaman ini. Buatlah personalized curriculum berbasis fitrah bakat untuk memandu pengembangannya.

Tahapan di atas adalah tahapan Ideal, bisa jadi tiap anak berbeda kesempatan untuk mengembangkannya, maka yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan mempersiapkan yang terbaik.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah 
#fitrahbakat

Kurikulum Allah

🎉🎉 *Oleh-oleh Kopdar bersama ustad Adriano Rusfi* 🎉🎉

Kemarin ustadz Aad di kopdar mini fasil Jadetabek Bandung Semarang, kami dapat insight penting....

Konsep HE melalui Penguatan pendidikan karakter. Saat ini permasalahan pendidikan kita adalah racun paradigma persekolahan yang masih belum hilang. Maka menjadi penting untuk menggantinya dengan *_KURIKULUM ALLAH_*

1⃣ Intinya, orangtua hendaknya mampu memaknai hikmah kehidupan untuk anak anaknya dengan membekali kecakapan kecakapan hidup.

2⃣ Membangun *_Peradaban Belajar_*.
Amerika hebat dan besar bukan karna kampus kampus seperti
Harvard, tapi kuncinya ada di peradaban belajar masyarakat. Amerika telah memiliki peradaban belajar (Berfikir & Bertindak) yang baik. Di indonesia belum terlihat peradaban belajarnya, satu-satunya contoh terbaik peradaban belajar di Indonesia adalah *GONTOR*

3⃣ Tentang CBE *( _Community Base Education_ )*.
Membangun CBE dgn Community Learning Center berbasis tetangga, transformasi dari masjid ke masjid dan menjadikannya sebagai pusat aktivitas/peradaban. Mulailah bergandengan tangan mengajak tetangga terdekat berCBE. Mulai dari lokal/wilayah yg kecil, namun mengakar.

*Tugas terberat kita* adalah membuang kerangka berfikir pendidikan formal yang apa-apa harus stuktural, formal, sesuai pakem kurikulum yang jelas. Padahal anak-anak kita tidak butuh itu. Anak anak justru perlu dibenturkan dengan realita, tantangan, kesulitan, ujian. Inilah yang disebut Kurikulum Allah.

#Cipinang30042017
============================
By: Bunda Noni dkk

Mendidik Fitrah Keimanan

*Mendidik Fitrah Keimanan*

_By : ustadz Harry Santosa_

#fitrahkeimanan

Fitrah adalah Islamic Concept of Human Nature (konsep Islam ttg Asal Mula Kejadian Manusia). Sejak lahir manusia telah membawa pokok kebaikan (innate goodness) yang sangat cukup untuk menjalani peran peradaban spesifiknya dalam rangka mencapai maksud penciptaan untuk Beribadah (Hamba Allah) dan untuk menjadi Khalifah Allah di muka bumi.

_Diantara aspek fitrah adalah kecenderungan manusia untuk beriman atau bertuhan, yang disebut fitrah keimanan. Fitrah keimanan bahkan telah diinstal sejak di alam rahiem (QS 7:172) dalam bentuk persaksian Allah sebagai Robb (kholiqon-pencipta, roziqon-pemberi rezqi, malikan-pemilik/pemelihara dstnya)_

Instalasi persaksian ini kemudian muncul dalam kenyataan bahwa tiap bayi lahir menangis. *Para ulama mengatakan bahwa bayi menangis karena "seeking Allah" atau mencari Allah, dalam hal ini adalah Robb.* Itulah mengapa menyusui diwajibkan karena sebagai bentuk penguatan dan perawatan syahadah Rubbubiyatullah. Dalam pemberian ASI, sang bayi merasakan adanya Zat yang memberi rizqi, melindungi, merawat, menyayangi dstnya.

Perihal syahadah Rubbubiyatullah ini juga nampak pada perihidup bangsa bangsa, bahwa tiada satu sukupun di muka bumi yang tidak ada tempat untuk sujud kepada Tuhan.

Atheisme sendiri baru dikenal manusia pada Abad 18an sebagai bentuk penolakan terhadap penindasan Raja Diktator dan Gereja. AlQuran bahkan menyebut bahwa Kafir Quraisy sekalipun mengakui Tauhid Rubbubiyatullah. "Jika ditanyakan kpd mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka menjawab Allah".

Karenanya dalam hadits ttg Fitrah, dikatakan bahwa ```"setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang merubahnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi"``` , namun dalam hadits ini tidak dikatakan merubahnya menjadi Muslim. Mengapa? Karena setiap bayi sudah lahir dalam keadaan Islam.

*Lalu bagaimana Mendidik Fitrah Keimanan?*

Mendidik fitrah keimanan, tentu bertahap sesuai tahapan usia.

____________
👶Usia 0-2 tahun
Ini tahap penguatan fitrah keimanan dengan memberikan ASI secara eksklusif, menghadirkan hati, perhatian, sentuhan, pandangan dsbnya ketika menyusui. *Inilah tahap penguatan awal Tauhid Rubbubiyatullah.

_____________
👶Usia 3-6 tahun.
Ini tahap merawat fitrah keimanan dengan membangun imaji imaji keindahan ttg Allah, ttg Rasulullah SAW, ttg Islam dan kebaikan lainnya sehingga melahirkan kesan dan cinta yang mendalam. *Cinta sebelum Islam, Iman sebelum Amal*

~Dilarang merusak imaji imaji anak di usia ini ttg indahnya alHaq.~Para ulama meminta untuk *menunda menceritakan ttg neraka, perang akhir zaman, Dajjal, qiyamat dstnya, sampai benar benar fitrahnya kuat di usia 7 tahun ke atas.*

~Dilarang mendidik adab dengan memaksa, menyakitkan hatinya,~ dstnya, agar tidak malah membenci adab. Namun upayakanlah adab berkesan indah. *Jadi tahap ini sepenuhnya full cinta namun tidak memperturutkan yang tidak baik.*

```Ceritakanlah hal hal indah yang membuat ananda sangat tergugah, berkesan mendalam dan antusias pada kebenaran. Suasanakanlah keshalihan dalam setiap momen dan kesempatan tanpa terasa dan formal.```

*Ini tahap emas untuk mengenalkan Allah, Rasulullah SAW dan kebaikan kebaikan Islam.* Anak sedang pada puncak imaji dan abstraksinya, alam bawah sadarnya masih terbuka lebar, maka mengenalkan apapun ttg kebaikan apalagi dengan cara berkesan akan masuk ke dalam alam bawah sadarnya dan menguatkan fitrahnya. Penting mengkontekskan semua peristiwa baik dengan Allah dalam setiap kesempatan.

*Teladankan kebaikan tanpa pasang target untuk segera diikuti.*  ~Hindari semua bentuk formal dan penerapan disiplin yang membuatnya jadi membenci kebaikan itu sendiri.~ Ingat bahwa sholat baru diperintah saat usia 7 tahun, jadi di bawah 7 tahun sholat diimajikan indah bukan dipaksa tertib gerakan, tertib bacaan, tertib waktu. Misalnya penting setiap azan berkumandang, wajah bunda menjadi sumringah dan tersenyum seindah mungkin, bahkan memeluk dan mengucapkan kata kata indah di telinga ananda.

*Dahulukan amar ma'ruf daripada nahi munkar.* Misalnya jika ananda naik ke atas meja, katakan saja "nak meja untuk makan, kaki untuk ke masjid atau ke taman" daripada panik dan menyebut keburukan.

Diharapkan pada fase ini anak sudah antusias mengenal dan menyebut nama Allah di usia 3 tahun. Nanti di usia 7 tahun, diharapkan ketika kita mengatakan, "nak, sholat itu diperintah oleh Allah lho..." maka ananda menerima perintah Sholat dengan suka cita".

Usia 0-6 tahun adalah masa emas bagi mendidik fitrah keimanan, dengan menguatkan konsep Allah sbg Robb, melalui imaji imaji indah yang melahirkan kecintaan kpd Allah, Rasulullah SAW, Islam. *Metodenya adalah keteladanan dan suasana keshalihan yang berkesan mendalam.*

______________
👳Usia 7-10 tahun

Ini adalah *tahap menumbuhkan dan menyadarkan Tauhid Mulkiyatullah.* Pada tahap ini ananda sedang sangat kritis (fitrah belajar dan bernalar pada puncaknya), mereka juga _mulai bergeser dari ego sentris ke sosio sentris,_ mereka mulai memahami adanya keteraturan di alam dan di kehidupan.

Inilah tahap yang tepat untuk menumbuhkan dan menyadarkan bhw Allahlah Sang Maha Pengatur, Sang Maha Pembuat Hukum, Zat Yang harus ditaaati. Fitrah keimanannya ditumbuhkan dengan *membaca alam dan mentadaburi keteraturan ciptaan Allah di alam semesta.*

Fitrah keimanan tumbuh baik dengan menginteraksikannya pada kenyataan adanya keteraturan yang indah dan sempurna alam semesta. Keimanannnya mulai berbunga menjadi keinginan kuat memahami keteraturan itu dan mencintai Sang Maha Pengaturnya. Keimanan *tidak bisa lagi lewat kisah kisah menjelang tidur, namun harus dialami langsung dengan interaksi di alam.*

_________
👨Usia 11-14 tahun.

Ini tahap mendidik fitrah keimanan untuk Tauhid Uluhiyatullah. *Metodenya adalah mengokohkan fitrah keimanan melalui ujian ujian kehidupan sehingga mennjadi kebutuhan. Iman itu perlu diuji bukan lagi dikisahkan atau diinteraksikan, tetapi melalui beban beban kehidupan dalam batas kesanggupannya. Ingat bahwa fitrah keimanan bukan bicara seberapa banyak ilmu agama yang direkam di benak, namun bicara seberapa banyak anak mengokohkan keimananannya melalui cinta yang mendalam pada alHaq.

Pada tahap ini, memberikan anak kesempatan untuk merantau yang tidak terlalu jauh, berbisnis kecil kecilan, memberi investasi, memagangkan pada maestro, melibatkan pada aktifitas dakwah dll. Maka kita akan lihat, bagaimana fitrah keimanannya diuji dalam kehidupan.

Rasulullah SAW memulai magang berdagang bersama pamannya dan merantau ke Syams sejak usia 11-12 tahun. Maka kita lihat Rasulullah SAW piawai di dakwah dan piawai di pasar.

Dalam ujian ujian kehidupan itu mereka akan menyadari butuhnya sholat malam, butuhnya panduan alQuran dan alHadits, butuhnya memperbaiki misi hidup sesuai yang Allah kehendaki dstnya.

> 15 tahun. Peran Peradaban atas Tumbuhnya Fitrah Keimanan

Fitrah Keimanan yang tumbuh paripurna akan berujung kepada peran peradaban berupa ghairah dan antusias Menyeru Kepada Tauhidullah. Inilah adab tertinggi kepada Allah sebagaimana yang ditugaskan kepada para Nabiyullah Alaihimusalaam sepanjang sejarah.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak